Reader Comments

Penjelasan Idul Fitri dan Halal Bihalal

by Mas Abu Hasan Ubai (2020-04-20)


https://www.mustafalan.com - Idul Fitri punyai makna kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab, yaitu fithrah, bermakna suci. Kelahiran seorang manusia, di dalam kaca Islam, tidak dibebani dosa apapun. Kelahiran seorang anak, tetap di dalam pandangan Islam, diasumsikan secarik kertas putih. Kelak, orang tuanya lah yang bakal mengarahkan kertas putih itu membentuk dirinya. Dan di dalam kenyataannya, perjalanan hidup manusia selalu tidak mampu luput dari dosa. Karena itu, mesti usaha mengembalikan kembali terhadap keadaan sebagaimana asalnya. Itulah makna Idul Fitri.
Idul Fitri punyai makna kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab, yaitu fithrah, bermakna suci. Kelahiran seorang manusia, di dalam kaca Islam, tidak dibebani dosa apapun. Kelahiran seorang anak, tetap di dalam pandangan Islam, diasumsikan secarik kertas putih. Kelak, orang tuanya lah yang bakal mengarahkan kertas putih itu membentuk dirinya.
Dan di dalam kenyataannya, perjalanan hidup manusia selalu tidak mampu luput dari dosa. Karena itu, mesti usaha mengembalikan kembali terhadap keadaan sebagaimana asalnya. Itulah makna Idul Fitri. Dosa yang paling sering ditunaikan manusia adalah kekeliruan terhadap sesamanya. Seorang manusia mampu punyai rasa permusuhan, pertikaian, dan saling menyakiti. Idul Fitri merupakan peristiwa mutlak untuk saling memaafkan, baik secara individu maupun kelompok.
Budaya saling memaafkan ini lebih tenar disebut halal-bihalal. Fenomena ini adalah fenomena yang berjalan di Tanah Air, dan udah menjadi tradisi di negara-negara rumpun Melayu. Ini adalah refleksi ajaran Islam yang utamakan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang.
Dalam pengertian yang lebih luas, halal-bihalal adalah acara maaf-memaafkan terhadap hari Lebaran. Keberadaan Lebaran adalah suatu pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan Ramadhan udah sukses melawan berbagai nafsu hewani. Dalam konteks sempit, pesta kemenangan Lebaran ini diperuntukkan bagi umat Islam yang udah berpuasa, dan mereka yang dengan dilandasi iman.
Menurut Dr. Quraish Shihab, halal-bihalal merupakan kata majemuk dari dua kata bahasa Arab “halalâ” yang diapit dengan satu kata penghubung ‘ba’ (dibaca: bi) (Shihab, 1992: 317). Meskipun kata ini berasal dari bahasa Arab, sejauh yang aku ketahui, penduduk Arab sendiri tidak bakal jelas makna halal-bihalal yang merupakan hasil kreativitas bangsa Melayu. Halal-bihalal, tidak lain, adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di sedang penduduk Asia Tenggara. Halal-bihalal merupakan tradisi khas dan unik bangsa ini.
Kata ‘halal’ punyai dua makna. Pertama, punyai makna 'diperkenankan'. Dalam pengertian pertama ini, kata ‘halal’ adalah lawan dari kata ‘haram’. Kedua, bermakna ‘baik’. Dalam pengertian kedua, kata ‘halal’ perihal dengan standing kelayakan sebuah makanan. Dalam pengertian paling akhir selalu dikaitkan dengan kata thayyib (baik). Akan tetapi, tidak seluruh yang halal selalu bermakna baik. Ambil contoh, misalnya talak (Arab: Thalaq; arti: cerai), seperti ditegaskan Rasulullah SAW: Talak adalah halal, tetapi terlampau dibenci (berarti tidak baik). Jadi, di dalam hal ini, ukuran halal yang patut dijadikan pedoman, selain makna ‘diperkenankan’, adalah yang baik dan yang menyenangkan. Sebagai sebuah tradisi khas penduduk Melayu, apakah halal-bihalal punyai landasan teologis? Dalam Al Qur’an, (Ali 'Imron: 134-135) diperintahkan, bagi seorang Muslim yang bertakwa misalnya melakukan kesalahan, paling tidak mesti jelas perbuatannya lalu memohon ampun atas kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, mampu menghindar amarah dan memaafkan dan berbuat kebajikan terhadap orang lain.
Dari ayat ini, selain memuat ajakan untuk saling maaf-memaafkan, halal-bihalal terhitung mampu disimpulkan sebagai pertalian antar manusia untuk saling berinteraksi melalui kesibukan yang tidak dilarang dan juga punya kandungan sesuatu yang baik dan menyenangkan. Atau mampu dikatakan, bahwa tiap-tiap orang dituntut untuk tidak melakukan sesuatu apa pun kecuali yang baik dan menyenangkan. Lebih luas lagi, berhalal-bihalal, semestinya tidak sekedar dengan memaafkan yang umumnya hanya melalui lisan atau kartu ucapan selamat, tetapi mesti diikuti perbuatan yang baik dan mengasyikkan bagi orang lain.
Dan perintah untuk saling memaafkan dan berbuat baik kepada orang lain semestinya tidak sekedar ditunaikan kala Lebaran. Akan tetapi, mesti berkelanjutan di dalam kehidupan sehari-hari. Halal-bihalal yang merupakan tradisi khas rumpun bangsa tersebut merefleksikan bahwa Islam di negara-negara tersebut sejak awal adalah agama toleran, yang utamakan pendekatan hidup rukun dengan seluruh agama. Perbedaan agama bukanlah isyarat untuk saling memusuhi dan mencurigai, tetapi sekedar sebagai layanan untuk saling berlomba-lomba di dalam kebajikan.
Ini sesuai dengan Firman Allah, “Dan bagi tiap-tiap umat tersedia kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam) berbuat kebaikan". (Q.S. 2:148). Titik tekan ayat di atas adalah terhadap berbuat kebaikan dan perilaku berorientasi nilai. Perilaku semacam ini bakal mentransformasi dunia menjadi sebuah surga. Firman Allah (SWT), “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, bakal tetapi memang kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, doa dan makna ketika telinga berdengung kitab-kitab, nabi-nabi dan memberi tambahan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang yang meminta-minta ; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat ; dan orang-orang yang menepati janjinya misalnya dia berjanji, dan orang-orang yang sabar di dalam kesempitan, benar (imannya) ; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa". (Q.S. 2:177)
Berangkat dari makna halal-bihalal seperti tersebut di atas, pesan universal Islam untuk selalu berbuat baik, memaafkan orang lain dan saling share kasih sayang hendaknya selalu menjadi warna penduduk Muslim Indonesia dan di negara-negara rumpun Melayu lainnya. Akhirnya, Islam di lokasi ini adalah Islam rahmatan lil ‘alamiin.(Rizqon Khamami)